H A L U A N S i s w a | Bersahsiah, Dekat Bererti
Saturday, August 6, 2011
Kefahaman Al Quran Melahirkan "Total Action"
Tatkala kita melayari bahtera Ramadhan, Al Quran akan menjadi “menu” utama kepada umat Islam untuk menatap dan membacanya berbanding dari bulan-bulan yang lain. Menelaah Al Quran bererti kita sedang menyuluh kehidupan kita kepada petunjuk yang sahih dan benar. Firman Allah SWT yang bermaksud: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah:185)
Tidak ada kitab yang memiliki pengaruh yang besar, baik isi mahupun bacaannya kepada kehidupan manusia selain Al Quran. Sepanjang sejarah Islam, tidak pernah surut manusia mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan isi Al Quran. Inilah kitab penyelamat, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
“Memuatkan cerita orang-orang sebelum kamu dan mengkhabarkan orang-orang sesudah kamu. Ia merupakan hukum di antara kamu. Pemimpin yang meninggalkannya akan dihancurkan Allah, siapa yang mengambil petunjuk selainnya, akan Dia sesatkan. Ia merupakan tali yang amat kuat, peringatan Al-Hakim, dan jalan yang lurus. Dengannya hawa nafsu tidak akan tergoncang dan lisan tidak akan ceroboh. Ulama tidak akan kenyang memakannya, keajaibannya tidak akan pernah luntur. Siapa berucap dengannya maka akan benar. Siapa mengamalkannya akan mendapat pahala. Siapa yang menggunakan hukumnya bererti adil dan siapa yang mengajak kepadanya, akan ditunjukkan Jalan yang lurus”. (HR Tirmidzi)
Bercinta Dengan Al Quran…
Ramadhan adalah bulan imarahnya cinta bersama Al Quran. Rasulullah SAW ada bersabda mengenainya; “Puasa dan Al Quran itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Quran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafa’at untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat. ” (HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)
Persoalannya kini sudah sejauhmana kuasa cinta itu menyerap pada diri kita? Apakah Al Quran yang kita baca telah melahirkan umat yang memiliki Aqidah yang benar, sepertimana yang telah dilahirkan oleh generasi pertama saat memulakan dakwah ini, kuasa dan pengaruh cinta mereka kepada Al Quran amat luarbiasa sehingga menggoncangkan dunia.
Persoalan inilah yang sering bermain-main di minda saya. Masih terlalu kerdil usaha saya bercinta dengan Al Quran. Teringat akan kata-kata seorang murabbi saya;
“Al Quran perlu menjadi manhaj hayah (sistem kehidupan) dalam diri kita. Tanpa al Quran bererti kita mengambil sistem yang lain sebagai pacuan kehidupan. Beruntunglah manusia yang mahu dan mampu berinteraksi dengan Al Quran dan rugilah manusia yang mensia-siakan dan meninggalkan Al Quran. Tidak ada dakwah tanpa Al Quran. Dan tidak akan ada keberkatan serta keaslian suatu jamaah atau organisasi dakwah tanpa interaksi mendalam dengan Al Quran”.
Kata-kata beliau menyebabkan saya berfikir, bercinta dengan Al Quran bermula dengan mem”besar”kan Allah SWT dalam setiap saat kehidupan kita dan dalam setiap aktiviti dan kegiatan harian kita, bukan sekadar di bulan Ramadhan kita cakna dengan Al Quran. Al Quran mencairkan dan melenyapkan nilai-nilai ketuhanan yang lain dan memperakui hanya sanya Allah SWT Rabb dan Illah yang satu. Menjadi hamba Allah di setiap bulan dan tahun yang kita lalui, bukan hanya di bulan Ramadhan. Inilah persoalan besar yang di bawa oleh Al Quran, menyelesaikan persoalan Aqidah, membina nilai keimanan yang total hanya kepada Allah SWT. Mungkinkah saat ini kita dan umat sedang menghadapi krisis keimanan? Krisis aqidah yang tidak bulat kepada Allah SWT.? Krisis cinta kepada Allah SWT.?
Aqidah Melahirkan Aksi Umat
Kata Imam Hasan Al Banna, kita akan mendapati bahawa Al-Quranul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia mampu mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahawa Allah SWT adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhirat, agar setiap jiwa dihisab tentang apa sahaja yang telah dikerjakan dan ditinggalkannya. Jika kita menamati ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Quran, nescaya kita mendapati bahawa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah,
“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)
Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Mukminun,
“Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Al-Mukminun: 84-90)
Allah SWT juga berfirman
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (Al-Mukminun: 101-103)
Allah SWT juga berfirman,
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8)
Allah SWT berfirman lagi,
“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah: 1-3)
Dalam surat lain Allah berfirman,
“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (At-Takatsur: 1-4)
Al Quran bicara kepada kita persoalan aqidah, keimanan dan akhirat. Dan dengan persoalan ini telah melahirkan generasi pertama yang disebut sebagai generasi Al Quran yang unik. Aqidah yang satu telah melahirkan generasi yang “bekerja” untuk Islam, untuk dakwah dan untuk memenangkan Islam. Ya! Generasi amilin, pekerja Islam!
Kekuatan aqidah yang kita harus faham ialah aqidah yang melahirkan tindakan dan aksi dari ummat. Sabda Rasulullah SAW;
“Bukanlah iman itu dengan berangan-angan, bukan juga dengan perhiasan tetapi ia adalah sesuatu yang menetap di dalam hati dan dibenarkan dengan ‘amal”.
Evaluasi Realiti Umat
Mungkinkah “dibenarkan dengan amal” masih tidak power aksinya dari umat Islam? Mari kita jujur merenung sebentar keadaan umat! Apa yang dapat anda rumuskan, situasi umat di Timur Tengah, di Palestin, di Sudan, di Indonesia, di Bosnia, di Iraq, di Selatan Thai dan di bumi tercinta Malaysia.
Saya memetik kata-kata Al-Ustaz Abu A’la Al-Maududi;
“Kita semua menamakan diri kita orang-orang Muslim, dan kita yakin Allah melimpahkan rahmatNya kepada orang-orang Muslim. Tetapi marilah kita buka mata kita dan kita lihat apakah rahmat Allah dilimpahkan kepada kita atau tidak. Apa pun yang terjadi di akhirat, itu adalah urusan nanti, tetapi yang penting marilah kita lihat kedudukan kita di dunia ini. Kita kaum Muslimin yang miliki bilangan yang cukup besar di dunia ini. Jumlah kita demikian besar sehingga bila masing-masing kita melemparkan sebuah batu, maka tumpukan batu itu akan menjadi sebuah gunung. Tetapi di negeri yang begitu banyak orang-orang Muslimnya ini, pemerintahan dunia berada di tangan orang-orang kafir. Tengkuk kita berada dalam cengkeraman tangan mereka, dan mereka memutar kepala kita ke arah mana saja yang mereka sukai. Padahal seharusnya kepala kita tidak kita tundukkan di depan siapa pun juga kecuali Allah, tetapi sekarang tertunduk di hadapan manusia-manusia yang sama seperti kita juga. Kehormatan kita yang mestinya tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga, sekarang belumuran tanah. Tangan kita yang selama ini selalu di atas sekarang berada di bawah dan menadah di hadapan orang-orang kafir. Kebodohan, kemiskinan dan hutang telah merendahkan darjat kita di mana-mana”.
Bukankah solusinya kita seharusnya kembali kepada Al Quran? Dan di sepanjang Ramadhan muncul, apakah kita masih tidak menjumpai jalan keluar akan kelesuan umat ini? Sebenarnya Al Quran sudah memberikan jawapannya, namun yang menjadi penghalang besar adalah sikap kita kepada Al Quran dan memberi respon kepada Al Quran tidak sama sebagaimana sikap dan respon para sabahat RA terhadap Al Quran.
Sikap Umat Pada Al Quran
Saya memetik kata-kata Al-Ustaz Abu A’la Al-Maududi lagi;
“Kita adalah satu-satunya umat yang paling beruntung di dunia sekarang ini, kerana kita memiliki Wahyu Allah yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur tangan manusia. Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih tetap sama dengan waktu ia diturunkan kepada Rasulullah SAW. Namun umat Islam ini juga adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini, kerana, walaupun mereka memiliki Wahyu Allah tetapi mereka tidak dapat memperoleh berkat dan manfaat Wahyu tersebut, yang sebenarnya tidak terhitung banyaknya itu. Al-Quran diturunkan Allah kepada mereka agar mereka membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut petunjuknya. Dan dengan pertolongan Kitab ini, mereka disuruh untuk menegakkan pemerintahan di muka bumi Allah ini yang berfungsi sesuai dengan hukum Allah. Al-Quran datang untuk memberikan kepada mereka kebesaran dan kekuasaan. Ia datang untuk menjadikan mereka Wakil Allah yang sejati di bumi ini. Sejarah telah membuktikan bahawa bilamana mereka (umat Islam) berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Kitab ini, maka Kitab ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka imam dan pemimpin dunia.
Tetapi sekarang, kegunaan Al-Quran bagi mereka hanyalah untuk disimpan di rumah untuk mengusir jin-jin dan hantu-hantu. Mereka menuliskan ayat-ayat Al-Quran pada lembaran-lembaran kertas lalu menggantungkannya pada leher mereka, atau mencelupkannya ke dalam air dan kemudian meminum airnya, dan mereka membaca ayat-ayat Al-Quran tersebut tanpa memahami ertinya, namun mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh sesuatu berkat daripadanya. Mereka tidak lagi mencari petunjuk daripadanya untuk mengatur masalah-masalah kehidupan mereka. Mereka tidak lagi menjadikan Al-Quran sebagai pertimbangan untuk mengetahui apa yang harus mereka percayai, apa saja yang harus mereka kerjakan, dan bagaimana mereka harus melakukan transaksi-transaksi. Mereka menjauhi Al-Quran dalam menentukan hukum-hukum apa yang harus mereka ikuti dalam mengikat tali persahabatan dan membuat permusuhan, hak-hak apa yang dimiliki sesama manusia atas diri mereka dan juga hak-hak mereka sendiri atas sesama manusia.
Mereka menjauhi Al-Quran dalam dipatuhi perintahnya dan siapa pula yang harus ditentang perintahnya, dengan siapa mereka harus memelihara hubungan dan dengan siapa tidak, siapa teman mereka dan siapa musuh mereka, di mana letak kehormatan, kesejahteraan dan keberuntungan mereka, dan di mana letak kehinaan, kegagalan dan kerugian mereka?
Kaum Muslimin tidak lagi memeriksa masalah-masalah ini dengan Al-Quran. Mereka sekarang meminta petunjuk tentang masalah-masalah tersebut kepada orang-orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang yang sesat dan hanya mementingkan diri sendiri, kepada suara-suara iblis yang ada dalam diri mereka sendiri, dan mereka mengikuti apa saja yang dikatakan oleh unsur-unsur tersebut. Kerana itu mereka ditimpa bencana, yang pasti akan datang, menimpa siapa saja yang melupakan Allah dan yang mengikuti petunjuk selain dari petunjuk-Nya.”
Kuasa Al Quran
Kata Al Maududi lagi, Al-Quran mampu memberikan kepada anda manfaat apa pun yang anda inginkan dan sebanyak apa pun yang anda mahu. Kalau dari al-Quran, yang anda cari hanya manfaat yang kecil dan remeh, seperti untuk mengusir jin dan hantu-hantu, ubat untuk orang sakit batuk dan demam, kemenangan dalam pengadilan dan berjaya dalam mencari kerja, maka yang anda peroleh, memang, hanya hal-hal kecil itu saja. Bila yang anda cari hanya kekuasaan di atas dunia dan penguasaan terhadap alam semesta, maka anda juga akan memperolehnya. Dan kalau anda menginginkan untuk mencapai puncak kebesaran rohani, Al-Quran juga akan membawa anda ke sana. Ini hanyalah soal kemampuan anda untuk mengambil manfaat daripadanya. Al-Quran adalah bagaikan lautan: anda hanya mengambil dua titis air daripadanya, padahal, sebenarnya ia mampu memberikan air sebanyak lautan itu sendiri.
Subhanallah, apa perasaan anda sekarang? Tariklah nafas kita dalam-dalam. Ternyata kerja kita masih banyak untuk berterusan mentadabbur Al Quran dengan teguh dan benar. Dengan Al Quran kita perbetulkan salah faham umat. Harapan masih ada. Ternyata kita masih boleh bangkit dengan kekuatan sebenar tatkala cinta kita kepada Al Quran adalah cinta yang asli dan jujur. Cinta yang akan menemukan kita dengan formula kebangkitan umat. Rasulullah SAW dan para sahabat telah mencontohkan kepada kita. Sultan Al Fateh, Tariq Bin Ziad dan Salehuddin Al Ayubi pernah menemuinya, maka kini tiba giliran kita, para pemuda generasi baru. Binalah cinta suci terhadap Al Quran. Berilah sepenuhnya cinta kita kepada Al Quran kerana tanda kita cinta kepada Allah adalah dengan mencintai Al Quran. Mulakan dengan keaslian aqidah kita yang tetap, benar, diyakini dan dibuktikan dengan “total action”. Ya, iman yang bukan mandul, tetapi iman dan aqidah yang melahirkan “total action”, berprestasi untuk Islam! Cinta yang melahirkan natijah, bukan sekadar cinta romantika palsu!
Semoga Ramadhan kali ini memberi kita kesempatan untuk akrab dan faham Al Quran dan mendapat manfaat yang besar darinya di dunia dan di akhirat. Amin Ya Rabb.
© Langitilahi.com
Wednesday, July 13, 2011
10 Tips Persiapan Bertemu Ramadhan

Wednesday, August 18, 2010
Ramadhan - Disebalik yang tersirat

Ramadhan ia harus dihidupkan dengan keimanan dan pengharapan kepada Allah SWT melalui amalan soleh
Ramadhan – Disebalik yang tersirat
Alhamdulillah, kita diberi peluang untuk terus menghirup udara Ramadhan yang segar dan menghidupkan ini. Semoga sahabat-sahabat HSiswa, para pembaca dan muslimin dan muslimat di seluruh dunia terus mengaktifkan diri masing-masing dengan memperbanyakan amalan ibadah di dalam bulan yang penuh keberkatan ini. InsyaAllah
Menyebut tentang Ramadhan, sudah tentu terbayang difikiran kita mengenai pelbagai kenikmatan dan keistimewaan yang dijanjikan oleh Allah SWT di dalamnya.
Sedikit perkongsian yang ingin saya kongsikan berkaitan Ramadhan dalam ruang yang ada ini.InsyaAllah
Para ulamak, ada yang memberikan satu kesimpulan yang mudah berdasarkan 5 huruf arab daripada perkataan Ramadhan. Ra – Mim – Dhod – Alif – Nun
Tersirat daripada perkataan huruf RA-MA-D-A-N
Ra – adalah Rahmah
Bulan Ramadhan adalah bulan rahmah. Didalamnya dilimpahi dengan pelbagai kerahmatan dan kenikmatan yang tidak terhitung untuk hamba-hamba Allah SWT dan seluruh manusia.
Mim – adalah Maghfirah ( Keampunan)
Bulan Ramadhan adalah bulan keampunan. Allah SWT membuka ruang dan pintu keampunan seluas-luasnya bagi hambaNya yang memohon keampunan serta menginsafi diri di setiap detik di dalam bulan Ramadhan.
Dari Abu Hurairah telah bersabda Rasulullah SAW yang bermaksud :
“ Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan berdasarkan iman dan penuh kesedaran mengharapkan Allah maka diampuni dosa-dosa yang terdahulu sebagaimana hari dilahirkan oleh ibunya.”
( HR Ibnu Khuzaimah)
Dhod – adalah Dhoman ( Jaminan)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang diberikan jaminan oleh Allah SWT sebagai bulan yang akan memberikan seribu kebaikan dan ganjaran Syurga bagi sesiapa yang menggunakan kesempatan ini dengan sebaiknya. Jaminan ini adalah jaminan yang tiada tandingannya berbanding bulan-bulan yang lain.
Alif – adalah Amana
Bulan Ramadhan adalah bulan keamanan, ketenangan dan kebahagiaan. Hati dan jiwa kita benar-benar tenang dengan kehadiran dan perasaan nyaman serta tenteram selalu menyelubungi sanubari kita sepanjang berada di dalam bulan yang penuh keberkatan ini. Inilah kehebatan dan keunikan Ramadhan
Nun – adalah Nur
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sentiasa dilimpahi dengan cahaya hidayah dan keimanan daripada Allah SWT. Bagi yang mencintai dan merindui kehadiran bulan yang penuh kerahmatan ini, akan menyedarikan bahawa sinar Ramadhan adalah sinar yang terang benerang memberi pengharapan dan kekuatan kepada jiwa untuk berusaha bersungguh-sungguh bagi melahirkan seorang mukmin muslim yang bertaqwa dalam erti kata yang sebenarnya.
Firman Allah SWT yang bermaksud :
“ Pada bulan Ramadhan diturunkan kitab suci Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan garis pemisah antara hak dan yang batil.”
( Al- Baqarah (2) : 185)
Ramadhan Al-Mubarak
MasyaAllah, itulah kehebatan yang terdapat pada Ramadhan. Ia adalah bulan yang dipenuhi dengan pelbagai tawaran, keistimewaan, ganjaran, kenikmatan, kebaikan, kebenaran, keampunan, kerahmatan, kesolehahan, kebersihan, kejernihan, dan penyucian jiwa untuk bergerak melangkah menjadi seorang manusia yang beriman serta bertaqwa kepada Allah SWT.
Jika bulan Ramadhan datang, Rasulullah SAW biasanya menyambut dengan ucapan :
“ Selamat Datang Wahai orang yang menyucikan.”
Para sahabat bertanya :
“ Siapakah orang yang menyucikan itu wahai Rasulullah ?”
Baginda menjawab :
“ Orang yang menyucikan itu ialah bulan Ramadhan. Ia menyucikan kita daripada segala dosa dan maksiat!.”
Melihat diri, dan usaha kita setakat ini
Hari ini sudah memasuki 7 Ramadhan.
Bagaimana dengan segala usaha amalan soleh kita.
Al-Quran bagaimana? Baca atau terlupa
Solat Sunat rawatib yang sangat digalakan
Solat sunat Terawih yang sangat-sangat dituntut
Zikir kita dalam setiap detik yang terluang
Sedeqah kita berupa wang dan senyuman serta segala bentuk bantuan kebaikan
Doa kita, macamana? Diperbanyakan atau masih ditakuk lama
Perbanyakan amalan kebaikan
Dan kurangkan amalan yang sia-sia
Allah SWT masih memberikan kesempatan yang sangat berharga, agar kita terus mengunakan kesempatan ini dengan sebaiknya ( semaksimanya)
InsyaAllah, ayuh terus maju!
Oleh : Saudara ‘Ali ‘Irfan Bin Jamalludin
Ketua HALUANSiswa Kelantan
Thursday, July 29, 2010
Proses Pentarbiahan Madrasah Ramadhan (Bahagian 1)
Tujuan Allah SWT menciptakan manusia ialah untuk berubudiyah kepada Allah SWT berdasarkan kepada firman Allah SWT di dalam Surah Adz Dzariyat ayat 56 yang bermaksud:
“ Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, hanyasanya untuk berubudiyah kepadaku.” ( Adz Dzariyat 51 : 56)
Puasa ialah salah satu bentuk ubudiyah yang difardukan khusus di dalam bulan Ramadhan bagi melahirkan mukmin bertaqwa dalam erti kata yang sebenarnya.
Ia adalah ibadah yang dituntut bagi melahirkan bentuk ubudiyah yang lebih besar dan menyeluruh meliputi ibadah-ibadah yang lain seperti solat, mengeluarkan, mengerjakan haji dan lain-lain. Dan kehadiran bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk proses untuk menghasilkan taqwa yang diredhai oleh Allah SWT.
Ramadhan Bulan Kecintaan dan Kerinduaan
Pernah digambar di dalam sirah para sahabat Rasulullah SAW bahawa mereka adalah satu kelompok manusia yang sangat merindui dan mencintai kehadiran bulan Ramadhan al-Mubarak. Rasulullah SAW dan para sahabat sentiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan harapan agar dapat menjejaki kaki dan merasai penghayatan ibadah di bulan yang barakah ini.
Satu harapan daripada doa yang sentiasa diulang-ulang agar mereka dapat menghirupkan lagi udara ibadah di dalam Bulan Ramadhan. Kenapa para sahabat begitu teruja dengan kehadiran Ramadhan?
Sudah tentu, padanya terdapat banyak kelebihan dan keistimewaan yang sangat banyak dan berharga. Jelas kepada kita, Ramadhan adalah bulan yang sangat indah dan cukup istimewa dihati orang-orang yang beriman. Inilah bulan pendidikan dan bulan peningkatan Iman.
Firman Allah SWT :
“ Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang hak dan yang batil)..” ( Al- Baqarah 2 : 185)
Di dalam fokus kali ini, kita akan melihat beberapa perkara yang akan menjadi tumpuan di dalam membicarakan soal Ramadhan. Perkara yang akan dilihat ini boleh dilihat dari sudut input, proses dan outcome dalam menghadapi Ramadhan. Input boleh kita gambarkan sebagai titik tolak dan persiapan yang akan menjadi pemacu kepada proses Ibadah yang akan dilaksanakan di dalam Bulan Ramadhan. Proses pula ialah aspek perlaksanaan aktiviti-aktiviti yang akan mendidik jiwa dan hati untuk mencapai target serta menghasilkan outcome yang dihajati setelah melalui bulan Ramadhan. Manakala, outcome pula ialah hasilan daripada proses yang telah dijalani sepanjang bulan Ramadhan iaitu menjadi mukmin yang bertaqwa.
Input Menghadapi Ramadhan
Di dalam melaksanakan sesuatu perkara, menyediakan persediaan jiwa dan persiapan hati merupakan sesuatu yang sangat penting. Seharusnya, Ramadhan itu dilalui dengan niat yang bersih dan menetapkan satu “mindsetting” yang betul agar titik tolak Ramadhan itu betul, sahih dan mengikut acuan syara’.
Para ulama menyifatkan Ramadhan sebagai satu madrasah ( institusi pendidikan seperti kolej atau sekolah). Sebagai sebuah sekolah sudah tentulah ia mempunyai matlamat, sistem kurikulum yang tersendiri.
Peranan utama Ramadhan ialah melahirkan para graduan yang bertakwa apabila individu itu benar-benar melalui sistem dan kurikulum selama berada di madrasah ini.
Seharusnya, di dalam menghadapi bulan Ramadhan seseorang itu harus melakukan persiapan dan penyediaan yang meliputi daripada pelbagai aspek dan memahami hakikat sebenar kehadiran Ramadhan sebagai institusi pentarbiyah jiwa dan mendidik muslim mukmin untuk mencapai taqwa. Jika kita lihat kepada sirah generasi para sahabat Baginda Rasulullah SAW, hati dan jiwa mereka sentiasa segar mengingati bulan Ramadhan. Sepanjang enam bulan pertama sebelum tibanya bulan Ramadhan para sahabat akan bersungguh-sungguh berdoa agar diberi peluang untuk berada di bulan Ramadhan.
Antara input yang perlu ada dalam diri seorang individu dalam melaksanakan persiapan Ramadhan ialah memahami sistem Islam itu dan menghayati tuntutan ibadah puasa serta ibadah lain yang akan dilaksanakan di dalam bulan Ramadhan. Sekiranya ini berlaku, ia umpama mindsetting kepada individu tersebut bahawa kehadiran bulan Ramadhan adalah seperti kursus intensif di dalam proses penyucian jiwa bagi melahirkan jiwa-jiwa yang bersih dan jernih. Jiwa sebeginilah yang dihajatkan bagi memperolehi darjat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Persekitaran yang baik dan amalan-amalan kebaikan yang dilaksanakan seharian di dalam kehidupan juga boleh menjadi salah satu bentuk persiapan bagi menghadapi ibadah di bulan Ramadhan. Ia akan memudahkan dari segi aspek perlaksanaan amalan soleh di dalam bulan Ramadhan kerana suasana-suasana yang baik dan soleh ini mampu memberi rangsangan dan dorongan kepada seseorang untuk memiliki perasaan dan keghairahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain daripada itu, persiapan yang menyeluruh meliputi aspek fakulti keinsanan iaitu jasmani, emosi, rohani dan intelek harus berjalan dengan seimbang dan bersepadu. Ia menjelaskan kepada kita bahawa, persiapan menghadapi bulan yang penuh rahmat dan barakah ini wajar dipersiapkan dengan persiapan yang holistik, menyeluruh dan seimbang. Sehubungan dengan itu, medan yang terbaik untuk melakukan persiapan ini harus bermula seawal bulan Rejab dan teruskan di bulan Syaaban agar seseorang itu melangkah ke bulan Ramadhan dengan persediaan yang rapi meliputi segala aspek.
Input inilah yang harus menjadi agenda utama di dalam persiapan diri seseorang yang inginkan Ramadhan sebagai medan ibadah yang terbaik di dalam kehidupannya. Persiapan menyuburkan persekitaran dengan amalan yang soleh, persediaan yang meliputi aspek fakulti keinsanan dan perlaksanaan amal perlu diseimbangkan agar Ramadhan yang dilalui itu menghasilkan bunga-bunga ketaqwaan yang akan menghiasi taman-taman kehidupan seseorang mukmin itu sendiri.
Proses pentarbiyahan Ramadhan
Setibanya di bulan Ramadhan, bagi individu-individu yang telah melakukan persiapan dan persediaan yang rapi maka mereka akan melalui proses ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh perasaan kecintaan, kerinduan serta dibakar dengan semangat yang berkobar-kobar dan membara . Bulan yang penuh barakah dan rahmat ini, akan dihayati dan disyukuri kehadirannya dan secara tidak langsung akan dipenuhi dengan segala bentuk ibadah kepada Allah SWT dengan niat yang bersih serta sentiasa melaksanakannya dengan sempurna agar ia benar-benar dikira sebagai amalan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Allah SWT.
Ibadat puasa itu sendiri merupakan sumber motivasi dalam membina potensi, semangat dan kekuatan muslim. Sekiranya ia dilakukan dengan penuh kesedaran dan dilaksanakan dengan perlaksanaan yang terbaik maka jiwa manusia dapat dibebaskan daripada kongkongan nafsu yang bersifat keduniaan dan kebendaan. Proses ini seterusnya akan melahirkan individu yang jiwanya penuh merasai kehambaan kepada Allah SWT dan bukannya menjadi hamba kepada nafsu.
Oleh: Dr. Abdullah Sudin Ab Rahman (Presiden HALUAN Malaysia)
Bersambung...
Mars HALUAN
Create a playlist at MixPod.com




